CIVIL ENGINEERING

CIVIL ENGINEERING

Tabel Berat Besi Polos dan Ulir Per Meter

0 comments




Berikut adalah tabel berat besi polos dan ulir


Berat besi polos per meter
No
Diameter besi (mm)
Berat besi (Kg)
1
6p
0.22
2
8p
0.4
3
9p
0.5
4
10p
0.62
5
12p
0.89
6
13p
1.04
7
16p
1.57
8
19p
2.23
9
22p
2.98
10
25p
3.85
11
28p
4.83
12
29p
5.19
13
32p
6.31
14
36p
7.99

Berat besi ulir per meter

No
Diameter besi (mm)
Berat besi (Kg)
1
6
0.222
2
8
0.395
3
9
0.500
4
10
0.617
5
12
0.888
6
13
1.040
7
16
1.578
8
19
2.223
9
22
2.985
10
25
3.853
11
28
4.830
12
29
5.185
13
32
6.313
14
36
7.990

Cara Menghitung Anak Tangga

0 comments


Rumus umum yang digunakan adalah :

-  1 aantrade ( mendatar ) + 2 optrade ( naik ) = 57 hingga 65 cm
-  Artinya : Untuk mencari lebar mendatar
-  1 aantread + 2 optread = 57 hingga 65 cm
Contoh :

Pertanyaan :
Suatu ruangan memiliki 2 lantai, ketinggian antara lantai 1 dan lantai 2 adalah 400 cm. hitunglah ukuran – ukuran anak tangga dan luas ruangan yang di pakai untuk keperluan rumah tangga ?

Jawaban :
Karena tinggi lantai = 400 cm, ukuran langkah naik diperkirakan dengan ukuran paling mendekatinya yaitu 19 cm, sehingga banyaknya langkah naik menjadi n 400/19 = 21 kali.

Panjang langkah datar di hitung dengan ketentuan :

A + 2.O            = 57 – 65 cm.
A + 2.O            = 60 cm
A + 2 x 19        = 60 cm
Jadi panjang langkah datar ( antrede ) = 22 cm. jika tangga tersebut dibuat tangga lurus maka panjang ruang yang di butuhkan untuk tangga yaitu : 19 x 24 = 418 cm, belum terhitung awal naik tangga dan akhir tangga.

Oleh karena itu lebih hemat bila menggunakan tangga bordes dengan dua lengan maka :
·         Banyaknya langkah naik n (A)                             = buah. ½ x 400/19 =11n
·         n langkah datar (O)                                               = 11 – 1 = 10 buah.
·         Panjang tangga seluruhnya menjadi 10 x 22    = 220 cm.
·         Panjang bordes                                                           = 80 cm
.         entrance tangga                                                          = 74 cm.

·         Panjang ruangan untuk tangga menjadi kurang lebih 374 cm

Cara Menghitung Kebutuhan Semen, Pasir dan Kerikil pada Pengecoran

15 comments


Dalam melakukan sebuah pengecoran, material yang dibutuhkan terdiri dari semen, pasir dan split. Pengecoran sendiri dibedakan menjadi 2, yaitu site mix dan ready mix. Pada kesempatan ini akan kami ulas tentang bagaimana caranya kita menghitung kebutuhan semen, pasir dan split untuk pengecoran yang khususnya adalah pengecoran site mix. Bagi yang sudah pengalaman di proyek, mungkin kita telah familiar dengan istilah perbandingan material pengecoran 1 : 2 : 3. Maksudnya di sini adalah perbandingan material pengecoran yaitu 1 semen : 2 pasir : 3 split. Pada kesempatan ini kita akan menghitung kebutuhan semen, pasir dan split dengan perbandingan tersebut.

Ketentuan yang berlaku di Indonesia adalah bahwa perbandingan ini adalah perbandingan berat misal 1 kg semen : 2 kg pasir : 3 kg split. Tapi untuk pekerjaan misal membuat dak di rumah sendiri, bisa juga digunakan perbandingan volume. Langsung saja kita misalkan perbandingan tadi sebagai ember, misal 1 ember semen : 2 ember pasir : 3 ember split, atau juga 1 m3 semen : 2 m3 pasir : 3 m3 split. Dalam praktek di lapangan, para tukang biasanya mengunakan takaran beragam, ada yang menggunakan ember, sekop, dan juga dolak.

Patokan ukuran semua alat itu adalah mengacu pada 1 zak semen
1 zak semen = 5 sekop pengki
1 zak semen = 1 dolak
1 zak semen = 0,024 m3 (pendekatan dari ukuran zak semen 50kg yaitu 10 cm x 40 cm x 60 cm)

Jadi campuran betonnya bisa menjadi 5 pengki semen : 10 pengki pasir : 15 pengki split
atau 1 dolak semen : 2 dolak pasir : 3 dolak split
atau 0.024 m3 semen : 0.048 m3 pasir : 0.072 m3 split.

Contoh soal 1:
Sekarang saatnya kita menghitung kebutuhan semen, pasir dan split untuk pengecoran. Misal kita ingin membuat dak dengan ukuran 10 m x 6 m dengan tebal 10 cm berapa kebutuhan materialnya jika ingin dibangun dengan mutu beton 1 : 2 : 3 ?
1.    Volume beton yang akan dibangun adalah 10 x 6 x 0.1 = 6 m3
2.    Total campuran tersebut adalah 1 + 2 + 3 = 6, itu berarti 1/6 adalah semen, 2/6 adalah Pasir, dan 3/6 adalah split.
3.    Maka kebutuhan semen : 6 m3 x 1/6 = 1 m3 ; Pasir : 6 m3 x 2/6 = 2m3 ; Split : 6 m3 x 3/6 = 3 m3.
Demikian sedikit ulasan tentang cara menghitung kebutuhan semen, pasir dan split dalam pengecoran dengan mutu beton 1 : 2 : 3. Anda bisa menghitung kebutuhan semen, pasir dan split dengan mutu beton yang berbeda sesuai dengan yang anda inginkan dengan cara-cara tersebut di atas. Semoga bermanfaat, selamat mencoba menghitung di rumah anda masig-masing.....


Contoh Soal 2 :
Bagaimana cara yang mudah untuk membuat adukan beton sesuai dengan takaran. Pemisalan dalam membuat takaran. Takaran ini mengacu pada jumlah semen. Takaran biasanya dibuat dari kayu yang biasa disebut Dolak. Dolak ini dibuat sesuai dengan ukuran 1 (satu) sak semen (persegi). Jadi Takarannya menjadi : Semen = 1 dolak, Pasir = 2 dolak dan Batu Split/Kerikil = 3 dolak.

Perencanaan duct beton mempunyai ukuran 3 x 5 m2 . Maka harus mengetahui volume duct beton yang akan di buat. Misalkan perencanaan dengan ketebalan 10 cm, maka volume beton yang dibutuhkan adalah 3 x 5 x 0,1 m3 = 1,5 m3.

Dari perbandingan beton tadi volume kebutuhan masing-masing material adalah :
Semen = 1/6 x 1,5 m3 = 0,25 m3 atau jika dikonversi dalam satuan sak semen = Volume Semen : Volume 1 sak semen (mis ukuran 1 sak semen 50 kg = 0,1 x 0,4 x 0,6 = 0,024 m3) = 0,25 : 0,024 = 10,416 sak semen @ 50 kg.
Pasir = 2/6 x 1,5 m3 = 0,5 m3.
Batu Split/ Kerikil = 3/6 x 1,5 m3 = 0,75 m3.

Untuk kekuatannya bagaimana ? Apakah adukan beton 1 : 2 : 3 memenuhi syarat untuk kebutuhan pelaksanaan konstruksi duct beton ?
Untuk adukan beton 1 : 2 : 3 kurang lebih setara dengan Beton Mutu K-175 atau dengan kata lain mempunyai kuat tekan 175 kg / cm2, dimana cukup untuk memenuhi syarat kondisi kekuatan duct beton. Jika ingin menentukan kekuatan beton sesuai dengan SNI (Standard Nasional Indonesia) misal dengan adukan beton (site mix) dengan K-200 atau K-225 maka dapat mengacu pada Buku SNI tentang Komposisi Adukan Beton yang diterbitkan oleh Dinas PU.

CARA MENGHITUNG KEBUTUHAN KERAMIK LANTAI

0 comments


Keramik lantai adalah salah satu bahan bangunan yang paling populer dan banyak digunakan. Rata-rata rumah dan bangunan modern menggunakan keramik lantai sebagai pelapis permukaan lantai.

Kelebihan Keramik Sebagai Bahan Pelapis Lantai
Ada beberapa keuntungan menggunakan keramik sebagai pelapis permukaan lantai. Keramik lantai tersedia dalam berbagai corak untuk memberikan kesan tertentu pada rumah misalnya corak batu alam, corak kayu, corak marmer, dan lain sebagainya. Permukaan keramik yang rata dan halus relatif sangat mudah dibersihkan. Aplikasi keramik pada lantai relatif membutuhkan waktu yang cepat. Keramik juga dapat dipotong untuk memenuhi keperluan ukuran tertentu atau untuk membentuk motif lantai yang diinginkan.

Pentingnya Menghitung Kebutuhan Keramik Lantai dengan Tepat
Sebelum membeli keramik untuk diaplikasikan pada lantai rumah atau lantai bangunan lainnya, anda harus mengetahui jumlah keramik yang anda butuhkan. Mengetahui kebutuhan keramik untuk menutupi lantai dengan luas tertentu sangat bermanfaat untuk menentukan biaya yang harus dianggarkan untuk pembelian keramik tersebut.
Kesalahan dalam menghitung jumlah keramik dapat menyebabkan jumlah keramik yang dibeli terlalu banyak sehingga terbuang percuma dan memboroskan anggaran. Sebaliknya kekurangan pembelian keramik dapat menyebabkan terhambatnya pekerjaan dan kemungkinan untuk mencari keramik tambahan yang sama lebih sulit.

Langkah-Langkah Menghitung Kebutuhan Keramik Lantai
Berikut langkah-langkah dalam menghitung kebutuhan keramik lantai.
1. Ukur panjang dan lebar lantai yang akan diaplikasi dengan keramik lantai dalam satuan meter.
2. Hitung luas lantai dalam satuan meter persegi dengan menggunakan rumus luas segiempat yaitu panjang dikalikan lebar. 
3. Hitung jumlah kebutuhan keramik dalam satuan meter persegi luas lantai.
4. Tambahkan 5% sebagai cadangan.

Contoh Cara Menghitung Kebutuhan Keramik Lantai
Sebuah rumah akan direnovasi dengan menambah dua kamar ukuran 3 m x 3,5 m dan sebuah teras ukuran 2 m x 3,5 m. Untuk menghitung jumlah keramik yang diperlukan maka harus diketahui luas total lantai yang akan diaplikasi dengan keramik. Luas lantai = (3 x 3,5) + (3 x 3,5) + (2 x 3,5) = 10,5 + 10,5 + 7 = 28 meter persegi. Jadi jumlah keramik yang diperlukan adalah 28 meter persegi. Karena keramik dijual dalam kemasan untuk satu meter persegi (mungkin lebih atau kurang sedikit), maka jumlah keramik lantai yang anda butuhkan adalah 28 dus. Tambahkan cadangan sebanyak 5% yaitu 2 dus (5% x 28 dus = 1,4 dus dibulatkan ke atas jadi 2 dus).

Berapa Jumlah Keramik dalam 1 Dus?
Keramik lantai ukuran 20 cm x 20 cm sampai dengan ukuran 60 cm x 60 cm dijual dalam kemasan 1 meter persegi (kadangkala lebih atau kurang sedikit, tetapi bisa dibulatkan 1 meter persegi). Keramik ukuran 20 cm x 20 cm dalam satu dus berisi 25 keping (1 m2), keramik ukuran 25 cm x 25 cm dalam satu dus berisi 16 keping (1 m2), keramik ukuran 30 cm x 30 cm dalam satu dus berisi 11 keping (0,99 m2), dst.

Berikut beberapa satuan kemasan keramik dalam satu dus untuk keramik bujur sangkar. 
1 dus keramik ukuran 20 cm x 20 cm terdiri dari 25 lembar
1 dus keramik ukuran 25 cm x 25 cm terdiri dari 16 lembar
1 dus keramik ukuran 30 cm x 30 cm terdiri dari 11 lembar
1 dus keramik ukuran 32,5 cm x 32,5 cm terdiri dari 9 lembar
1 dus keramik ukuran 33 cm x 33 cm terdiri dari 9 lembar
1 dus keramik ukuran 33,3 cm x 33,3 cm terdiri dari 9 lembar
1 dus keramik ukuran 40 cm x 40 cm terdiri dari 6 lembar
1 dus keramik ukuran 45 cm x 45 cm terdiri dari 5 lembar
1 dus keramik ukuran 50 cm x 50 cm terdiri dari 4 lembar
1 dus keramik ukuran 60 cm x 60 cm terdiri dari 3 lembar

Berikut beberapa satuan kemasan keramik dalam satu dus untuk keramik persegi panjang. 
1 dus keramik ukuran 20 cm x 25 cm terdiri dari 20 lembar
1 dus keramik ukuran 20 cm x 30 cm terdiri dari 16 lembar
1 dus keramik ukuran 20 cm x 40 cm terdiri dari 12 lembar
1 dus keramik ukuran 25 cm x 33 cm terdiri dari 12 lembar
1 dus keramik ukuran 25 cm x 33,3 cm terdiri dari 12 lembar
1 dus keramik ukuran 16,5 cm x 66,6 cm terdiri dari 10 lembar
1 dus keramik ukuran 25 cm x 45 cm terdiri dari 9 lembar
1 dus keramik ukuran 25 cm x 50 cm terdiri dari 8 lembar
1 dus keramik ukuran 20 cm x 60 cm terdiri dari 8 lembar
1 dus keramik ukuran 30 cm x 60 cm terdiri dari 6 lembar
1 dus keramik ukuran 32,5 cm x 65,6 cm terdiri dari 5 lembar
1 dus keramik ukuran 33,3 cm x 66,6 cm terdiri dari 5 lembar

Perlu diketahui bahwa untuk beberapa alasan, keramik tidak selalu dikemas dalam jumlah yang memiliki luasan total sekitar 1 meter persegi. Perlu diperhatikan pula bahwa tidak semua keramik memiliki ukuran standar menggunakan satuan cm, sebagian keramik khususnya produk impor memiliki ukuran standar dalam satuan inch. Oleh karena itu saat membeli keramik pastikan anda mengetahui jumlah keramik yang anda butuhkan per meter persegi permukaan yang akan ditutupi keramik tersebut.

Contoh Soal dan Pembahasan Pondasi Cakar Ayam

0 comments



Sistem Cakar Ayam (Prof Sedijatmo)
Teori dasar stabilitas pondasi Cakar Ayam
bh3 = η.a3.y      ; y = f (q, γ, λ)
dimana :
a = jarak antara pipa-pipa (m)
b = diameter luar pipa (m)
h = tinggi pipa (m)
γ = berat satuan tanah (ton/m2)
λ = konstanta tanah yang bergantung pada sudut geser dalam
q = tekanan tanah lawan (ton/m2)
η = angka keamanan, antara 1,5 dan 2

Penjabaran rumus diatas :
Tekanan tanah pasif pada sebuah pipa adalah sebagai berikut :
Dimana :
P = tekanan tanah pasif (ton)
h = tinggi pipa sampai alas pelat (m)
γ = berat satuan tanah (ton/m3)
λ = koefisien tekanan tanah pasif = λp
   = tg2 (45o + ϕ / 2)
Φ = sudut geser dalam tanah
b = diameter luar pipa
c = kohesi tanah (ton/m2)

Prof. Sedijatmo mengabaikan nilai kohesi pada perhitungan tekanan pasif tanah
P = 0,5 h2 γλb
Momen
m = P x h
dimana :
m = momen terhadap alas pelat (t.m)
p = tekanan tanah pasif pada sebuah pipa (t)
h = tinggi pipa
Harga P diisikan kedalam rumus m
m = 0,5 h2 γλb x 2/3 h
    = 1/3 h3 γλb
Momen M, akibat beban terpusat Q, dinyatakan dalam tekanan tanah lawan q, maka rumus momen m menjadi :
M = q a L x ½ L
Dimana :
M = momen akibat beban eksentris (m)
q = tekanan tanah lawan (ton/m2)
a = lebar lajur melintang pelat yang ditinjau (m)
L = Lebar pelat (m)

Besarnya momen luar, M, harus bisa di imbangi oleh momen lawan dari empat buah pipa yang ada dalam jalur melintang pelat yang ditinjau. Persamaan momen menjadi :
M = n.m
Dimana :
M = q a L x0,5 L
n.m = n/3 h3 γλb
Sehingga
q a L x 0,5 L = n/3 h3 γλb
Karena lebar jalur melintang pelat yang ditinjau, a, merupakan jarak antara pipa-pipa, maka lebar pelat, L, bisa dinyatakan dalam a. Sehingga persamaan menjadi :
q a L x 0,5 L = n/3 h3 γλb

dimana :
L = n.a
n = jumlah pipa pada jalur yang ditinjau = 4
qa x na x 0,5 x na = n/3 h3 γλb
0,5 n2 q a3 = n/3 h3 γλb
Persamaan terakhir dibalik sebagai berikut :
n/3 h3 γλb = 0,5 n2 q a3
Selanjutnya dapat ditulis
b h3 = η a3 y
dimana :
η = angka keamanan, antara 1,5 dan 2
y = 3/2 n q γ-1 λ-1 = f (q, y, λ)

Contoh Soal
Suatu jalan raya selebar 12,5 m akan dibuat melintasi daerah rawa rawa yang sangat lembek tanahnya.
Apabila tanah dasar yang akan dilalui jalan tersebut memiliki daya dukung, q = 0,06 kg/cm2= 0,6 t/m2 dan mempunyai sudut geser dalam tanah ϕ = 10o, dan berat satuan γ = 1,7 t/m3, berapa tinggi pipa h yang diperlukan bila :
a = jarak pipa pipa = 2,5 m
n = 5
b = diameter luar pipa = 1,2 m
η = 1,5
Juga berapa beban terpusat Q, yang dapat dipikul oleh pelat, bila pengaruh kohesi tanah diabaikan ?
Jawab
Digunakan rumus sebagai berikut :
b h3 = η a3 y
1,2 h3 = (1,5) (2,5)3y
y = 3/2 n q γ-1 λ-1
λ = tg2 (45o + 10 / 2)
   = 1,42
y = 3/2 (5) (0,6) / 1,7 (1,42)
   = 1,864
b h3 = η a3 y
1,2 h3 = (1,5) (2,5)3(1,864)
h3 = 36,408
h = 3,314 m
Beban terpusat, Q, yang dapat dipikul oleh pelat Cakar Ayam adalah sebagai berikut:
Q = q a L
Q = 0,6 x 2,5 x 12,5
    = 18,75 t

Contoh 2
Suatu jalan raya baru direncanakan  melintasi daerah rawa-rawa dengan permukaan tanah tidak datar seluruhnya. Daerah yang cekung harus ditimbuni dengan tanah yang baik dari boorow pits sedalam 2-3 meter agar seluruh permukaan jalan raya rata atau mendatar. Untuk konstruksi permukaan jalan raya direncanakan pelat beton tipis dengan pipa-pipa di bawahya sehingga memenuhi syarat sistem Cakar Ayam. Seluruh panjang jalan raya akan dibuat dengan sistem Cakar Ayam, termasuk bagian yang akan melewati daerah timbunan.
Ketentuan :
-         Lebar jalan raya, L = 10 m
-         Banyaknya pipa dalamsatu jalur melintang, n = 5 buah
-         Jarak antar pipa-pipa, a = 2 m
-         Diameter luar pipa, b = 1,2 m
-         Daya dukung tanah yang diizinkan di bawah pelat :
Tanah asli qa = 1 ton/m2
Tanah timbunan qb = 5 ton/m2
-         Sifat-sifat tanah adalah sebagai berikut :
Tanah asli γ = 1,7 t/m2
                  Φ = 10o
Tanah timbunan γ = 1,9 t/m2
                            Φ = 30o
-         Beban kendaraan dianggap bisa disebarkan secara merata di atas pelat sehingga timbul tegangan terbagi rata di bawah pelat sebesar p = 0,5 t/m2
          
Di       Ditanyakan ?
Panjang pipa-pipa cakar ayam baik ditanam di dalam tanah asli maupun dalam tanah timbunan.

Jawab
Untuk Tanah Asli
Konstanta tekanan tanah pasif λ dihitung terlebih dahulu
λ = tg2 (45o + 10o/2) = 1,42
Rumus untuk mencari tinggi pipa h adalah
b h3 = η a3 y
dimana
b = 1,2 m
η= 2
a = 2 m
n = 5
q = p = 0,5 t/m2
γ = 1,7 t/m2
λ = 1,42
maka y bisa dicari
y = 3/2 n q γ-1 λ-1
   = 3/2 x 5 x 0,5 x (1,7 x 1,42)-1
   = 1,553
Nilai-nilai yang sudah didapat dimasukkan kedalam rumus b h3 = η a3 y
h3 = ( 1,5 x 23 x 1,553 ) / 1,2
h  =  2,75 m

Untuk tanah timbunan
λ = tg2 (45o + 30o/2) = 3
b h3 = η a3 y
dimana
b = 1,2 m
η= 2
a = 2 m
n = 5
q = p = 0,5 t/m2
γ = 1,9 t/m2
λ = 3
y = 3/2 n q γ-1 λ-1
   = 3/2 x 5 x 0,5 x (1,9 x 3)-1
   = 0,658
b h3 = η a3 y
h3= (η a3 y) / b
h  = 2,06 m

Jika ingin copy paste, harap tampilkan sumber
Terimakasih
Semoga Bermanfaat