CIVIL ENGINEERING

CIVIL ENGINEERING
Showing posts with label Geotechnical. Show all posts
Showing posts with label Geotechnical. Show all posts

Perencanaan Pondasi Tiang Pancang

5 comments

Kali ini saya akan share tentang bagaimana merencanakan pondasi tiang pancang. Silahkan DISIMAK J

Pondasi suatu bangunan berfungsi untuk memindahkan beban-beban pada struktur atas ke tanah. Substruktur ini meliputi pondasi dan balok penghubung.
Dalam tulisan ini terlampir contoh perencanaan / perhitungan Pondasi tiang pancang.
Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang
1. Daya Dukung berdasarkan Kekuatan bahan
P=(Ap*Tbk)+(As*Tau) ; dimana ; P    = daya dukung tiang pancang ijin (kg)
Ap  = Luas penampang tiang pancang (cm2)
As  = Luas tulangan tiang pancang (cm2)
Tbk = Tegangan ijin beton (kg/cm2)
Tau = Tegangan ijin tulangan (kg/cm2)
2.  Daya dukung tiang pancang berdasarkan data sondir (CPT/Cone Penetration Test)
P =(qc*Ap)/3 + (JHL*Ka)/5 ;
dimana ; P   = Daya dukung tiang pancang ijin (kg)
qc  = Nilai konus (kg/cm2)
Ap  = Luas penampang tiang pancang (cm2)
Ka  = Keliling penampang tiang (cm1)
JHL = Jumlah hambatan lekat
SF  = Safety factor ; 3 dan 5
3.  Daya dukung tiang pancang berdasarkan Data SPT/ Standart Penentration Test
  • Qu = (40*Nb*Ap)
dimana ; Qu  = Daya dukung batas pondasi tiang pancang
Nb   = nilai N-SPT rata-rata pada elevasi dasar tiang pancang
Nb = (N1+N2)/2 ;
N1 = Nilai SPT pada kedalaman 3D pada ujung tiang ke bawah
N2 = nilai SPT pada kedalaman 8D pada ujung tiang ke atas
Ap = luas penampang dasar tiang pancang (m2)
  • Qsi = qs*Asi; dimana ;
Qsi = Tahanan limit gesek kulit
qs  = 0.2N—– untuk tanah pasir
0.5N—– untuk tanah lempung
Asi = keliling penampang tiang*tebal lapisan
Daya Dukung Tiang Pancang (SPT)
  • P = (Qu +Qsi)/3
DARI HASIL KE TIGA PERHITUNGAN DI ATAS NANTI , DAYA DUKUNG IJIN TIANG PANCANG YANG AKAN DIPERGUNAKAN ADALAH NILAI DAYA DUKUNG TERKECIL.
CONTOH PERHITUNGAN
  • Beban Normal maksimum N=814.07 ton ; M=90.671Ton
  • kuat tekan beton rencana fc’=35Mpa ; fy=400Mpa
  • Data Sondir pada kedalaman 12m (qc=250kg/cm2 dan JHL=1200 kg/cm)
  • Dimensi tiang pancang yang akan dipasang 40×40 cm
Daya dukung ijin satu tiang pancang berdasarkan data Sondir (CPT/Cone Penetration Test)
P = (qc*Ap)/3 + (JHL*Ka)/5
= (250*40*40)/3 + (1200*40*4)/5
= 133,333+38,400
= 171733.33 kg
= 171,7 Ton
Daya dukung satu tiang pancang berdasarkan Sondir/CPT adalah 171.7ton
Daya dukung satu tiang pancang berdasarkan data SPT/Standart Penetration Test
P = (Qu + Qsi)/3
Data SPT
Kedalaman (m) Jenis tanah N
0.0 s/d 2.0     (lempung)        4
2.0 s/d 4.0     (lempung)     10
4.0 s/d 6.0     (lempung)     13
6.0 s/d 8.0     (lempung)        36
8.8 (8D)         (lempung)        40 —–> (8*0.4)=3.2 m ; —-> 12m-3.2m = 8.8 m
10                    (lempung)       44
10.0 s/d 12.0   (pasir)           50  ——> kedalaman tiang pancang rencana 12m
13.2 (3D)        (pasir)             52 ——> (3*0.4)= 1.2 ; ——-> 12m+1.2m = 13.2 m
Qu = (40*Nb*Ap) ; ——-> Nb   = (N1 + N2)/2
Nb1 = (40+50)/2 ; —–> Nb1= 45
Nb2 = (50+52)/2 ; —–> Nb2= 51
Nb  = (45+51)/2 ; —–> Nb = 48
Qu = (40*48*Ap) ; ——> Ap = 0.4*0.4 ; —–> Ap=0.16
= (40*48*0.16)
= 307.2ton
Daya dukung Gesek/Friction tiang pancang berdasarkan data SPT
Qsi = qs*Asi
pada lapisan tanah hingga kedalam1- 10 m adalah jenis tanah lempung, dan lapisan tanah pada kedalaman 10-12 m adalah pasir .
qs —> untuk pasir 0.2N
qs —> untuk lempung 0.5N
kedalaman  0-10  (jenis tanah lempung)
qs1 = 0.5N*Asi ; (ket ; 0.5N adalah karena jenis tanah lempung)
Asi = keliling penampang tiang pancang*tebal
Asi = (0.4*4)*10; –> Asi = 16 m2
qs1 = 0.5*48*16 ; –> qs1=384ton
kedalaman 12 m —> jenis tanah pasir
qs2 = 0.2N*Asi ;  (ket 0.2N karena jenis tanah adalah pasir)
Asi = 0.4*4*2
Asi = 3.2 m2
qs2 = 0.2*48*3.2
= 30.72Iton
Qsi = qs1+qs2 ;     Qsi = 384+30.72
Qsi = 414.72ton
Daya dukung satu tiang pancang berdasarkan SPT
Pu = (Qu +Qsi)/3 ;
Pu = (307.2+414.72)/3
Pu = 240.64ton
kesimpulan
Nilai terkecil daya dukung satu tiang pancang dari metode CPT dan SPT yang akan dipergunakan pada perencanaan selanjutnya.
Daya dukung satu tiang pancang
  • berdasarkan CPT = 171.7ton
  • berdasarkan SPT = 240.67ton
Maka nilai daya dukung satu tiang pancang yang akan dipergunakan selanjutnya adalah berdasarkan CPT.
Selanjutnya perencanaan jumlah tiang pancang pada tiap pilecap – kolom. (saat ini sedang dalam penulisan, dalam waktu dekat dipublish di web ini)
Pada penulisan sebelumnya telah diperoleh daya dukung ijin satu tiang pancang, selanjutnya perencanaan adalah menghitung jumlah tiang pancang yang akan dipergunakan dalam satu kolom-pilecap/poer Beton .
  • Beban Normal Maksimum N=814.07ton,  Momen M=90.671tonM.
  • Daya dukung ijin satu tiang pancang P=171ton
maka jumlah tiang pancang yang dibutuhkan
n= 814.07/171
n= 5 buah
karena adanya efisiensi tiang pancang dalam satu grup tiang pancang yang akan mengurangi daya dukung satu tiang pancang, maka dipasang tiang pancang

pada kolom tersebut 9 buah. Dimensi satu tiang pancang 40/40cm.

Cek daya dukung tiang pancang akibat efisiensi.
Pu = N+Tx+Ty          —–> Tx = M*ex/(x1²+x2²+. . . +xn²)
Ty = M*ey/(y1²+y2²+. . . +yn²)
Dimensi tiang pancang 40/40cm
Tx = 90.671*1.2/(3*1.2²+3*0²+3*1.2²)  —–> Tx = 108.81tm/8.64
Tx = 12.594ton
Ty = 90.671*1.2/(3*1.2²+3*0+3*1.2²) ——> Ty = 108.81/8.64
Ty = 12.594ton
Pu = 814.07+12.594+12.594  —-> Pu = 839.258 ≤9*171=1539ton (aman)
Kesimpulan :
Untuk beban aksial/normal pada kolom di atas menggunakan 9 tiang pancang pada satu grup pilecap




SEMOGA BERMANFAAT
JIKA ADA YANG INGIN DITANYAKAN HARAP SAMPAIKAN DIKOLOM KOMENTAR

Tabel Desain Kriteria Kelas Pondasi Tower Berdasarkan Data Uji Tanah

1 comments


    Hanya untuk sebagai referensi desain, bukan patokan dalam mendesain pondasi. Sesungguhnya dalam suatu perencanaan pondasi banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi desain suatu pondasi. Silahkan di save, semoga bermanfaat kawan :D




METODE KERJA BENTONITE CEMENT PILE

2 comments
Halo gan, ane mau share sedikit ilmu yang ane dapetin tentang metode kerja bentonite cement pile dari lokasi proyek KP ane gan.

1. LINGKUP PEKERJAAN
A. MAKSUD DAN TUJUAN
Pembuatan bentonite cement pile diantara bored pile yang digunakan sebagai dinding penahan tanah sebagai lapisan yang relatif kedap air diantara bored pile tersebut. Sebagai suatu lapisan yang relatif kedap air, lapisan ini mempunyai fungsi untuk mengurangi seepage yang terjadi sedemikian rupa sehingga besarnya dapat diterima sesuai dengan perencanaan yang dibuat umumnya setelah pekerjaan cement bentonite selesai dibuat dinding basement sesuai perimeter tersebut yang kedap air / waterproofing.

B. KONDISI TANAH ASLI
Bentonite cement pile dibuat dengan menembus lapisan tanah yang terdiri dari lempung, lempung kelanauan, dan pasir.

2. PEKERJAAN PERSIAPAN
A. PLATFORM KERJA
Platform kerja dibuat mengelilingi perimeter dari jalur bentonite cement pile dan terdiri dari pelat-pelat baja yang disusun sejajar dan tegak lurus as memanjang bentonite cement pile untuk dudukan mesin bore.


B. MIXING PLANT
Setelah satu side installation yang penting adalah mixing plant, yang terdiri dari :
  • ·        Mixing plant

Mixing plant terdiri dari instalasi mixer pengaduk, tanki-tanki penampungan, pemipaan baik untuk bentonite slurry maupun bentonite cement slurry.
  • ·        Storage area 

      Adalah tempat penyimpanan semen dan bubuk bentonite.

C. AIR KERJA
Sebagai sumber air, baik air untuk pencampuran material maupun air kerja digunakan air yang berasal dari sumur yang dibuat di lokasi pekerjaan.

3. BENTONITE CEMENT SLURRY
A. PEMBUATAN
Bentonite cement slurry dibuat dengan melalui 3 (tiga) tahapan, yaitu :
  • ·        Pembuatan bentonite slurry ( lumpur bentonite )
  • ·        Pembuatan cement slurry
  • ·        Pembuatan cement slurry akhir

B. KOMPOSISI
Komposisi bentonite cement slurry yang diajukan adalah :
·        Air                   : 1000 liter
·        Bentonite         : 70 kg ( disesuaikan dengan kondisi di lapangan )
·        Cement            : 300 kg ( disesuaikan dengan kondisi di lapangan )
·        Additive           : Retarder yang banyaknya disesuaikan dengan kondisi dilapangan ( jika diperlukan )
Komposisi tersebut diatas dapat diatur kembali setelah didapat data-data awal dari hasil test di laboratorium setelah pembuatan bentonite cement pile dimulai.

C. PELAKSANAAN PENCAMPURAN
·        Bentonite slurry
Air bersih yang telah dipersiapkan di tanki penampungan dipompakan ke dalam mixer yang dibuat turbulensi yang tinggi, kemudian bubuk bentonite dimasukan ke dalamnya. Bentonite yang dipakai adalah BENTONILE / ex indobent / setara.
Setelah diaduk sampai homogen, bentonite slurry kemudian disimpan dalam tanki penampungan untuk hidrasi dan pengembangan.
·        Bentonite cement slurry
Semen yang dipakai adalah OPC.
Bentonite slurry dari tanki penampungan dipompakan ke dalam mixer dan kemudian diaduk dengan semen sehingga didapatkan suatu material yang homogen.

·        Bentonite cement slurry akhir
Ke dalam bentonite cement slurry seperti termaksud diatas kemudian dimasukan retarder dengan maksud memperlambat setting time dari semen. Banyaknya retarder yang digunakan tergantung dari kondisi-kondisi yang  dijumpai di lapangan.
Pengadukan dilakukan sampai retarder yang dimasukan cukup merata, kemudian bentonite cement slurry disimpan dalam tanki penampungan sebelum akhirnya dituangkan ke dalam lubang bor.

4. PEMBUATAN BENTONITE CEMENT PILE
A. PEMBUATAN LUBANG BOR
Pembuatan lubang bor untuk bentonite cement pada prinsipnya sama dengan pembuatan lubang bor untuk bored pile.

B. PEMASUKAN BENTONITE CEMENT SLURRY
Ke dalam lubang bor yang telah selesai dilaksanakan kemudian dimasukan bentonite cement slurry dengan melalui pipa tremie sehingga bentonite cement slurry mencapai permukaan yang ada. Pada waktu bentonite cement ini mulai mengeras, biasanya akan terjadi “penyusutan” sehingga permukaan bentonite cement akan menurun. Untuk mengisi penuh kembali lubang, bentonite cement slurry dapat langsung dituang di atas material yang sudah mulai mengeras dengan sebelumnya dilakukan pembersihan di atas permukaanya.


5. TESTING DAN QUALITY CONTROL
Testing akan dilakukan dalam 2 ( dua ) tahap, yaitu :
Ø  Preliminary testing
Testing ini dilakukan untuk menentukan bahwa trial mix yang dilakukan mendahului pekerjaan utama dilaksanakan akan
menghasilkan suatu material yang dapat memenuhi kondisi-kondisi persyaratan yang dikehendaki.
Testing ini meliputi 2 macam test yaitu Field testing dan Laboratory test.
§  Field Testing
Test – test ini meliputi:




§  Laboratory Testing
Test – test ini meliputi :



Ø  Perfomance Testing
Testing – testing ini dilakukan secara rutin selama pelaksanaan pekerjaan pembuatan bentonite cement pile dilakukan, dilakukan sebagai control terhadap mutu pelaksanaan pekerjaan. Sama halnya dengan preliminary testing, testing- testing ini terdiri dari 2 macam testing yaitu Field testing dan Laboratory testing.
§  Field Testing
Test – test ini meliputi :


§  Laboratory Testing
Test – test ini meliputi :


6. PERMASALAHAN YANG MUNGKIN TERJADI
A. KEBOCORAN AKIBAT BAGIAN BENTONITE CEMENT PILE YANG TIDAK BAIK
Kadang-kadang dijumpai adanya kebocoran pada bagian dari bentonite cement yang dibuat pada suatu kedalaman tertentu, untuk mengatasi permasalahan tersebut hal-hal yang biasanya dilakukan adalah sebagai berikut :
Pada daerah yang bocor dimasukan 1 atau beberapa pipa pralon Ø ½ “-1” hingga menembus lapisan tanah asli dengan tujuan air yang bocor dapat dialihkan aliranya melalui pipa pralon tersebut.
Kemudian daerah yang bocor tersebut ditutup dengan memakai bahan grouting dan pada tahap akhir, bagian dalam pipa pralon tersebut juga di grouting.
B. KEBOCORAN AKIBAT EKSENTRISITAS LUBANG BOR
Kebocoran mungkin juga terjadi akibat lubang bor yang dibuat terlalu miring, sehingga terdapat bagian bentonite cement pile yang tidak terpotong oleh bored pile yang dibuat. Apabila bagian yang bocor tidak terlalu luas, biasanya pada sisi dalam rangkaian bored pile dan bentonite cement tadi dibuat lubang baru dan kemudian dimasukan dengan bentonite cement ke dalam lubang tersebut.

Ini adalah dimana titik lubang bentonite yang akan di bor

Lubang Bentonite dan Bentonite telah dituang


SEMOGA BERMANFAAT

Harap Cantumkan Sumber Jika ingin Copy Paste, Hargai Penulis

Sondir, Pemeriksaan Kekuatan Tanah

1 comments





PEMERIKSAAN KEKUATAN TANAH dengan SONDIR( DUTCH CONE PENETROMETER )


A. PENDAHULUAN

Penyondiran adalah proses pemasukan suatu batang tusuk ke dalam tanah, dengan bantuan manometer yang terdapat pada alat sondir tersebut kita dapat membaca atau mengetahui kekuatan suatu tanah pada kedalaman tertentu. Sehingga, dapat diketahui bahwa dari berbagai lapisan tanah memiliki kekuatan yang berbeda.

Penyelidikan dengan penyondiran disebut penetrasi, dan alat sondir yang biasa digunakan adalah Dutch Cone Penetrometer, yaitu suatu alat yang pemakaiannya ditekan secara langsung kedalam tanah. Ujung yang berbentuk konus ( kerucit ) dihubungkan pada suatu rangkaian stang dalam casing luar dengan bantuan suatu rangka dari besi dan dongkrak yang dijangkarkan ke dalam tanah.

Ada dua macam ujung penetrometer, yaitu :

a. Standard Type ( mantel conus )

Pada jenis ini yang diukur adalah perlawanan pada ujung ( konus ), hal ini dilakukan hanya dengan menekan stang dalam yang segera menekan konus tersebut ke bawah sedangkan seluruh casing luar tetap di luar. Gaya yang dibutuhkan untuk menekan konus tersebut ke bawah diukur dengan suatu alat pengukur. Alat pengukur yang akan diletakkan pada kekuatan rangka didongkrak. Setelah dilakukan pengukuran,konus,stang dalam,dan casing luar dimajukan sampai pada kedalaman berikutnya dimana pengukuran selanjutnya dilakukan hanya dengan menekan stang dalamnya saja.

b. Friction Sleeve ( Adhesion Jacket Type / Bikonus )

Pada jenis ini dapat diukur secara sekaligus nilai konus dan hambatan lekatnya. Hal ini dilakukan dengan penekanan stang dalam seperti biasa. Pembacaan nilai konus dan hambatan lekat dilakukan setiap 20 cm. Dengan alat sondir yang mungkin hanya mencapai pada kedalaman 30 cm atau lebih, bila tanah yang diselidiki adalah lunak. Alat ini sangat cocok di Indonesia, karena disini banyak dijumpai lapisan lempung yang dalam dengan kekuatan rendah sehingga tidak sulit menembusnya. Dan perlu diketahui bahwa nilai konus yang diperoleh tidak boleh disamakan dengan daya dukung tanah tersebut.



CARA PEMBACAAN MANOMETER pada ALAT SONDIR

Setelah batang konus dimasukan pada kedalaman tertentu, pemutar sondir diputar sebanyak 5 kali. Pada saat itu dilihat pada jarum manometer terdapat dua nilai, nilai yang terbesar adalah jumlah perlawanan konus ( JPK ) dan nilai terkecil adalah perlawanan penetrasi konus ( PPK ).

· Perlawanan penetrasi konus adalah perlawanan tanah terhadap ujung konus pada saat dilakukan penetrasi.

· Jumlah perlawanan konus adalah perlawanan geser terhadap konus pada saat dilakukan penetrasi.

· Hambatan lekat adalah perlawanan geser tanah terhadap selubung bikonus.



B. TUJUAN PERCOBAAN

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui perlawanan penetrasi konus dan hambatan lekat tanah yang merupakan indikasi dari kekuatan tanah tersebut dan yang dapat menentukan dalamnya berbagai lapisan yang berbeda.



C. Alat – Alat yang Digunakan

ü Mesin sondir ringan kapasitas 2 Ton

ü Seperangkat alat sondir lengkap dengan batang dalam dengan panjang 1m

ü Angker

ü Plat besi

ü Konus dan bikonus

ü Minyak hidraulic

ü Manometer

ü Kunci – unci pipa dan lain – lain.





D. PROSEDUR PERCOBAAN

a) Masukkan angker ke dalam tanah pada titik yang ditentukan, minimal dua buah.

b) Pasang mesin sondir tepat diantara angker tersebut, kemudian stel sondir agar berdiri tegak lurus.

c) Kunci mesin sondir pada angker dengan menggunakan plat besi.

d) Isi minyak hidraulic pada tempat pemasangan manometer sampai penuh dan bebas dari udara ditandai dengan tidak ada gelembung udara lagi.

e) Pasang bikonus pada ujung pipa pertama, kemudian pasang rangkaian tersebut pada mesin sondir.

f) Tekan batang dengan cara memutar stang pemutar yang berhubungan dengan sisi yang menjalankan penekan stang luar untuk memasukan bikonus pada kedalaman yang yang akan disondir dengan memasang tri-ker.

g) Tekanlah stang dalam untuk mencabut tri-ker sehingga ujung konus masuk sedalam 4 cm dan baca manometer sebagai perlawanan penetrasi konus (PPK). Penekanan selanjutnya akan menggerakkan konus beserta selubung sedalam 8 cm dan baca manometer sebagai jumlah perlawanan konus (JPK)

h) Tekan pipa bersama batang sampai kedalaman yang akan diukur berikutnya. Pembacaan dilakukan setiap kedalaman 20 cm.

i) Demikian selanjutnya hingga pembacaan perlawanan penetrasi konus (PPK) mencapai nilai 150 kg/cm2 sebanyak 3 kali.

j) Lalu penyondiran dihentikan dengan mencabut kembali pipa sondir dengan memutar ke arah yang berlawanan.



CATATAN :

1. Pekerjaan sondir ringan (2 Ton) dihentikan apabila pembacaan PPK ≥ 150 kg/cm2, sebanyak 3 kali berturut-turut atau penetrasi konus telah mencapai kedalaman 30m.

2. Pekerjaan sondir berat (5 Ton) dihentikan apabila pembacaan PPK ≥ 500 kg/cm2sebanyak 3 kali berturut-turut atau penetrasi konus telah mencapai kedalaman 50 m.



KEUNTUNGAN DARI PENGGUNAAN ALAT SONDIR

ü Baik untuk lapisan tanah lempung.

ü Dapat dengan cepat menentukan lapisan tanah keras.

ü Dapat memperkirakan pernedaan lapisan tanah.

ü Mengetahui daya dukung tanah dengan rumus empiris.

ü Baik digunakan untuk menentukan letak muka air tanah.



KEKURANGAN DARI PENGGUNAAN ALAT SONDIR

ü Tidak cocok digunakan pada lapisan tanah berbutir kasar ( keras )

ü Hasil penyondiran diragukan apabila letak alat tidak vertikal atau konus dan bikonus bekerja tidak baik.



Setiap penggunaan alat sondir harus dilakukan kalibrasi dan pemeriksaan perlengkapan antara lain :

Ø Manometer yang digunakan masih dalam keadaan baik sesuai dengan standard yang berlaku.

Ø Ukuran konus yang akan digunakan haus sesuai dengan ukuran standard (d = 36 mm)

Ø Jarum manometer harus menentukan awal nilai nol.

Ø Dalam pembacaan harus hati – hati melihat apakh induk stang bor sudah ikut terkena, karena akan mempengaruhi pembacaan manometer.

Ø Apabila alat sondir mulai terangkat,sedangkan tekanan manometer belum mencapai angka 150 kg/cm2 untuk sondir ringan dan 500 kg/cm2 untuk sondir berat,maka alat sondir harus diberi pemberat.



E. PERHITUNGAN

a. Hambatan Lekat ( HL ) dihitung dengan rumus :

HL = JPK – PPK

HL = ( JPK – PPK ) x A / B

Dimana : JPK = Jumlah Perlawanan Konus ( kg/cm2 )

PPK = Perlawanan Penetrasi Konus ( kg/cm2 )

A = Tahap Pembacaan ( setiap kedalaman 20 cm )

B = Faktor alat / Luas konus / Luas corak = 10 cm2

(d = 3.6 cm " L = ¼ π d2 = 10,17 cm2)

b. Jumlah Hambatan Lekat

JHL = ∑ HL

Dimana : i = kedalaman yang dicapai konus

c. Contoh Perhitungan Data :

Pada Kedalaman 0,4 m, PPK = 5 kg/cm2

JPK = 15 kg/cm2

Maka, HL = ( JPK – PPK ) x A/B

= ( 15 – 5 ) x 20/10 = 20



Demikian seterusnya sampai kedalaman yang diinginkan untuk sondir. Hasil – hasil perhitungan dapat dilihat pada lembar data. Kemudian dari hasil penggambaran grafik dapat dilihat dimana kia – kira tanah keras berada.



F. PELAPORAN

Lokasi titik sondir = Lapangan Sepak Bola Teknik Sipil USU.

Grafik = Perlawanan Penetrasi Konus terhadap kedalaman dan Jumlah Hambatan Lekat terhadap kedalaman



G. KESIMPULAN

a) Dari hasil percobaan terlihat bahwa perlawanan penetrasi konus bervariasi menurut kedalaman tertentu.

b) Dari grafik hasil sondir dapat terlihat bahwa terdapat lapisan tanah dimana kekuatan perlawanan konusnya tidak sama,

c) Dari percobaan diketahui bahwa Perlawanan Penetrasi Konus terbesar pada kedalaman 5,60 meter,dengan :

PPK = 195 kg/cm2 dan JPK = 882 kg/cm2.



H. Aplikasi Data Percobaan

Data dari hasil sondir dapat dipergunakan untuk menghitung daya dukung suatu pondasi yang dipasang pada tanah pada saat perencanaan pondasi sehingga dapat ditentukan jenis tanah yang cocok untuk dipergunakan :

Untuk Pondasi Dangkal

Pondasi dangkal atau pondasi biasa digunakan apabila data sondir tersebut menujukan bahwa pada kedalaman tersebut tanah mempunyai daya dukung yang baik. Misal pada kedalaman 1m, besar perlawanan konus 35 kg/cm . Maka pada pondasi dipasang dengan kedalaman 1m, bentuk serta ukurannya direncanakan dengan baik sehingga bebab dapat dipikul dengan baik.

Untuk Pondasi Tiang Pancang

Data hasil percobaan sondir dapat dipublikasikan juga untuk perencanaannya. Daya dukung tiang pancang dapat didukung dengan perhitungan, yaitu menganggap perlawanan terhadap ujung tiang dengan tanah adalah sama dengan nilai sondir, yaitu nilai Perlawanan Penetrasi Konus (PPK) dan Jumlah Hambatan Lekat (JHL). Daya dukung keseimbangan untuk tiang pancang ( P ) dihitung dengan rumus :

P = Qc x A + F x O

Dimana : Qc = nilai Perlawanan Penetrasi Konus (PPK) (kg/cm2)

A = Luas Penampang Tiang Pancang (cm2)

F = Jumlah Hambatan Lekat (JHL) selubung konus (kg/cm2 )

O = keliling penampang tiang pancang (cm)



Daya dukung yang diizinkan dihitung dengan rumus :

Qi = ­(Qc x A)/3 + (F x O)/5



Catatan :

Dalam pembacaan pada percobaan sondir, yang dimaksud dengan 20/10 adalahj :

20 --> Pembacaan dilakukan setiap kedalaman ( cm )

10 --> Faktor alat / Luas konus / Luas corak = 10 cm2

(d = 3.6 cm " L = ¼ π d2 = 10,17 cm2)